Sekecil Itu , Segirang Ini
Ada hari di mana hati rasanya ringan. Bibir pun tersenyum tanpa alasan, dan lagu pujian terus menerus mengalir begitu saja:
“Engkau baik di dalam stiap musim hidupku. Engkau baik di dalam sgala keaadaann. Engkau, Yesus, Kau takkan pernah tergantikan. Kumau saksikan kebaikan-Mu…”
Itulah yang kualami sepanjang hari ini.
-----------
Pagi ini aku berangkat kerja seperti biasa. Tapi seperti hidup yang penuh kejutan, ujian kecil datang: ban motorku bocor di tengan perjalanan menuju tempat kerja. Sialnya, aku sama sekali lupa di mana letak tambal ban terdekat. Aku pun mendorong motorku pelan-pelan, sampai akhirnya kutemukan seorang bapak tua yang membuka jasa tambal ban di pinggir jalan.
Sambil menunggu, kami mengobrol. Usianya 60 tahun, kerutan di wajahnya tampak dalam, mungkin karena beban hidup yang tidak ringan. Aku bertanya tentang pekerjaannya dan keluarganya. ia bercerita bahwa istrinya baru saja meninggal karena komplikasi diabetes. Besok, katanya, genap 100 hari kepergiannya.
Karena sambil bercakap-cakap, tak terasa waktu berlalu dengan cepat. ban telah selesai ditambal, dan aku bertanya, “Berapa, Pak?”
“Lima belas ribu,” jawabnya.
Aku hanya membawa uang tunai dua puluh ribu di dompetku. Tanpa pikir panjang, aku menyerahkannya dan berkata sambil menggenggam tangannya,
“Lebihnya buat Bapak saja, Tuhan Yesus memberkati ya pak, Semoga pekerjaannya lancar.”
Hatiku berdegup, aku tak pernah sebelumnya mengucapkan “Tuhan Yesus memberkati” pada tukang tambal ban atau orang yang tidak seiman denganku. Tapi pagi itu, hatiku terdorong untuk mengatakannya. Aku melihat raut wajahnya sedikit terkejut, tapi segera ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih ya terima kasih.”
Aku pun melanjutkan perjalananku ke kantor—dan sepanjang jalan itu, aku diliputi rasa sukacita yang sulit dijelaskan. Seolah aku telah membawa kabar baik, dan tak peduli bahwa hari itu aku tak punya uang sepeser pun lagi. Aku tahu… Tuhan mencukupkan.
Siangnya, salah satu adikku menawarkan bawang putih. Aku membelinya, bukan hanya karena butuh, tapi karena ingin mendukung usahanya. Aku tidak memiliki uang tunai lagi, dan di rekening pun saldo pas-pasan, tapi hari itu entah mengapa aku ingin terus berbuat baik, seolah itu hari terakhirku hidup :)).
Saat bawang putih itu datang, aku sadar jumlahnya terlalu banyak untukku sendiri. Maka kuputuskan untuk membagikannya pada teman-teman satu ruangan di kantor dan sisanya aku akan berikan mama di rumah. Mereka mengucap terima kasih, namun ada pula yang tidak. Tapi hatiku tetap senang.
Aku tak tahu pasti apa yang sedang Tuhan kerjakan saat itu dalam diriku. Yang aku tahu hanyalah satu hal: aku bersukacita memberi, sekalipun bukan di masa kelimpahan. Dan ternyata… bersukacita adalah hak istimewa yang Tuhan titipkan padaku hari ini. Dan aku yakin—Tuhan pun sedang tersenyum padaku :)
Malam hari saat aku merenung pengalaman sepanjang hari..
Ban bocor, dompet tipis, rekening pas pasan, hari biasa. Tapi di balik itu semua, aku bertemu kasih Tuhan lewat momen-momen kecil: menyebut nama-Nya dengan iman, berbagi tanpa syarat, dan melihat wajah orang lain tersenyum. Hari itu aku belajar—sukacita bukan soal keadaan, tapi soal hati yang dipenuhi Tuhan.
Comments
Post a Comment