Eh... Ini mujizat ya?

Nggak yang heboh atau viral gitu sih. Tapi beneran nyata. Dan justru itu yang bikin aku ngerasa… Tuhan tuh deket banget.

****

Sebenernya, aku udah sering banget ngalamin pertolongan Tuhan dalam hidup ini. Tapi kali ini aku pengen cerita tentang momen pertama kali aku sadar, "Eh… ini mujizat, ya?"

Dulu aku pikir, mujizat itu harus sesuatu yang luar biasa dan supranatural gitu. Yang keren banget. Misalnya: sembuh dari penyakit berat tanpa pengobatan, tiba-tiba dapat uang banyak, bisa pergi ke luar negeri tanpa usaha apa-apa. Pokoknya yang “wow” dan kayak di kesaksian-kesaksian itu.

Dan karena aku ngerasa hidupku biasa-biasa aja, aku mikir, "Ya aku sih belum pernah ngalamin mujizat..."

Jadi, kalau denger orang cerita tentang mujizat hidup mereka, aku cuma bisa senyum, angguk-angguk, sambil mikir, “Wah, keren ya. Tapi kayaknya bukan aku deh.”

Soalnya, semua yang aku alami rasanya hasil usaha sendiri. Sakit? Ya sembuh karena ke dokter, minum obat.Bisa ke luar negeri? Ya karena aku kerja.Jadi kayak nggak ada yang “ajaib” banget. Kalau aku nggak ngelakuin apa-apa, ya nggak kejadian juga. Jadi rasanya... bukan mujizat.

Sampai suatu hari, aku ngalamin sendiri

----

Waktu itu, beberapa tahun sebelum pandemi.Masa-masa yang berat banget buatku secara finansial. Aku nggak kerja. Suamiku juga lagi sepi orderan. Keuangan kami bener-bener tipis, nyaris nggak ada.

Tiap bulan kami bingung gimana harus bayar tagihan. Kadang masih bisa diusahakan, tapi sering juga mentok kayak nabrak tembok.

Tapi aku masih ingat satu momen yang ga terlupakan

Hari itu, kondisi kami lagi bener-bener di ujung. Uang bener-bener habis. Bahkan buat beli sabun mandi aja nggak ada. Belum lagi tagihan yang harus segera dibayar.

Nggak ada opsi lain. Yang bisa kami lakukan cuma satu: berdoa. Dan berharap. Banget. Pake nangis2 lagi waktu itu. 

Tapi ya itu… nggak ada uang jatuh dari langit. Nggak ada yang transfer tiba-tiba. Nggak ada koper emas di pinggir jalan 😅

Akhirnya setelah ngobrol sama suami dan mikir panjang, kami memutuskan untuk meminjam uang ke teman—dengan cara menggadaikan motor satu-satunya yang kami punya. Motor itu nggak bisa digadaikan ke pegadaian karena udah terlalu tua. Jadi ya… kami cuma punya satu opsi: teman.

Aku telepon dia, tapi nggak langsung ngomong soal pinjam uang atau gadai motor. Aku cuma bilang mau main ke rumahnya. Dan dia menyambut kami dengan hangat.

Jelas, hatiku deg-degan banget waktu itu. Aku nggak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Motor itu satu-satunya milik kami yang masih bisa dibilang “berharga”.

Sampai akhirnya, setelah ngobrol sebentar, aku kumpulin keberanian buat bilang: Kami datang karena mau pinjam uang, dan kami siap kasih BPKB motor sebagai jaminan.

Temanku diam sebentar, lalu dia bilang, “Tunggu sebentar ya,” dan masuk ke kamarnya.

Tak lama kemudian, dia keluar lagi…Dengan amplop tertutup di tangannya. Dia menyerahkan amplop itu dan bilang, “Tuhan suruh aku kasih ini buat kalian.” 

Aku terdiam. Semua rasanya campur aduk. Aku nggak tau harus ngomong apa. Mataku panas, hatiku penuh. Aku bingung… antara terharu, malu, bersyukur dan bertanya-tanya dalam hati  berapa isi amplop itu.

Dia bilang, Tuhan udah bicara dari malam sebelumnya untuk kasih ini ke kami.

Dan ketika aku buka amplop itu… Isinya PERSIS sejumlah tagihan yang harus kami bayar. Woow.. Dan bahkan ada sisa sedikit… cukup buat beli sabun mandi. 

Tapi bukan cuma itu. Di dalam amplop itu juga ada sebuah kartu dengan tulisan tangan. Isinya? Pesan pribadi dari Tuhan buat kami.

Aku nggak bisa berkata-kata.Rasanya seperti Tuhan sendiri yang datang dan bilang,"Aku lihat kamu. Aku tahu kamu. Aku sediakan untukmu."

Dan di situlah, untuk pertama kalinya aku sadar, “Ini… mujizat.”

Nggak ada kilatan cahaya dari langit. Nggak ada malaikat yang muncul di ruang tamu. Tapi pertolongan Tuhan nyata. Spesifik. Persis. Sampai ke sabun mandi pun Tuhan pikirin. Aku pun tak perlu menyerahkan surat motorku.

Aku sadar… Tuhan itu peduli banget, bahkan dalam hal-hal yang kelihatan kecil sekalipun.

---

Dari pengalaman itu, aku belajar…Mujizat itu bukan soal spektakuler atau dramatis. Tapi soal Tuhan hadir di tengah kondisi kita yang paling mentok sekalipun.

Kadang bentuknya bukan uang, bukan kesembuhan. Tapi damai, kekuatan, atau seseorang yang tiba-tiba muncul dengan jawaban dari doa kita.

Mujizat itu ketika Tuhan kasih jalan di tempat yang kelihatan buntu. Ketika kita udah nggak punya apa-apa… ketika seperti gak mampu untuk bangkit, tapi tetap nggak dibiarkan sendirian.

Mujizat bukan hanya soal spektakuler. Tapi soal siapa yang bekerja di baliknya: Tuhan sendiri. 

Jadi buat kamu yang lagi tunggu jawaban Tuhan... Trust Him with all your heart ya ❤️. He'll come to help. 

"Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab; Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya." — Mazmur 91:15


Comments

  1. Terimakasih kak … sangat menguatkan. Sukses selalu kak Nat

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Hidup Ga Sesuai Harapan

Sekecil Itu , Segirang Ini