Posts

Tuhan Terkadang Ribet

Dalam hidup ini kita semua pasti pengen segala sesuatu yang mudah, cepat, dan tanpa ribet kan yaa...  Namun, lewat dua pengalamanku ini,  Tuhan menolongku memahami sesuatu lewat kacamataNya.  Kali ini aku dapat kesempatan untuk membantu dua orang. Dua peristiwa sederhana. Yang pertama, seorang teman mama yang sudah berusia 87 tahun. Ia tinggal sendirian di rumah kontrakannya. Suaminya sudah lama meninggal dan ia tidak mempunyai anak. Meskipun tubuhnya masih cukup sehat dan ia masih mampu berjalan, tetap saja di usia senjanya ia membutuhkan penopang ketika berjalan, seperti menggandeng seseorang atau berpegangan tembok atau apa yang ada di dekatnya. Melihat itu, hatiku tergerak, dan aku memutuskan untuk membelikannya tongkat. Sederhana saja. Aku membelinya secara online, lalu berkunjung ke rumahnya dan memberikan tongkat itu. Selesai. Praktis. Tidak rumit. Dua minggu kemudian, Tuhan kembali menggerakkan hatiku. Seorang temanku, Siti, membutuhkan meja lipat untuk berjualan ...

Teman baik yang tak kuduga

"Belajar Melihat Kesulitan dari Kacamata Tuhan" Kalau ada sesorang  yang bertanya diantara kerumunan "adakah yang mau hidup dalam kesulitan". Pasti akan segera terdengar jawaban  serentak " tidaaaaaakk" :)) Ya tentu saja ga ada satu orangpun yang mau untuk hidup dalam kesulitan,  akupun juga tidak. Namun lewat masa masa sulit yang kulewati, aku menyadari bahwa kesulitan bisa jadi teman baik untukku Teman baik itu kan bukan cuma yang selalu bikin kita senang. Dia juga pasti akan bersedia dan berusaha menolong apapun caranya supaya kita menjadi lebih baik, bahkan kadang teman baik juga bisa aja nggak sependapat atau malah menegur saat kita keluar jalur. Oke balik lagi ke soal kesulitan ya.  Salah satu kesulitan yang kualami dalam perjalanan hidupku adalah kesulitan finansial. Saat itu aku mulai berhenti bekerja di tahun 2013, dan aku berpikir bahwa suamiku akan mampu untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kami. Namun ternyata kenyataan berbeda dengan impian. S...

Eh... Ini mujizat ya?

Nggak yang heboh atau viral gitu sih. Tapi beneran nyata. Dan justru itu yang bikin aku ngerasa… Tuhan tuh deket banget. **** Sebenernya, aku udah sering banget ngalamin pertolongan Tuhan dalam hidup ini. Tapi kali ini aku pengen cerita tentang momen pertama kali aku sadar, "Eh… ini mujizat, ya?" Dulu aku pikir, mujizat itu harus sesuatu yang luar biasa dan supranatural gitu. Yang keren banget. Misalnya: sembuh dari penyakit berat tanpa pengobatan, tiba-tiba dapat uang banyak, bisa pergi ke luar negeri tanpa usaha apa-apa. Pokoknya yang “wow” dan kayak di kesaksian-kesaksian itu. Dan karena aku ngerasa hidupku biasa-biasa aja, aku mikir, "Ya aku sih belum pernah ngalamin mujizat..." Jadi, kalau denger orang cerita tentang mujizat hidup mereka, aku cuma bisa senyum, angguk-angguk, sambil mikir, “Wah, keren ya. Tapi kayaknya bukan aku deh.” Soalnya, semua yang aku alami rasanya hasil usaha sendiri. Sakit? Ya sembuh karena ke dokter, minum obat.Bisa ke luar negeri? Ya ...

Ketika Hidup Ga Sesuai Harapan

 Saat semua terasa sia-sia, Tuhan mengingatkanku bahwa kasih yang tak terlihat pun bisa membuat sorga bersorak. -------- Kadang, hidup tuh nggak sesuai sama yang kita bayangkan. Kita pengennya bisa ada di posisi yang nyaman, enak, seperti yang seharusnya. Tapi kenyataannya? Jauh banget dari itu. Kita harus kerja, sering kali bukan buat diri sendiri—tapi buat mencukupi kebutuhan, atau mumgkin menyenangkan orang lain. Apa yang kita kerjakan rasanya nggak dihargai. Kita kerja keras, tapi nggak bisa menikmati hasilnya sendiri. Kita lihat apa yang pasangan kita lakukan itu kurang pas, tapi saat kita kasih masukan, kayak cuma lewat aja. Lama-lama capek banget. Lelah, sampai rasanya pengen nyerah. Pernah nggak sih ngerasa kayak gini: "Aku kerja, tapi kok nggak ada hasilnya buat aku..." ,  "Aku nikah, tapi nggak ngerasa bahagia..." "Kayaknya nggak ada bagian buat aku. Nggak ada waktu buat aku. Nggak ada aku-nya sama sekali." Hari ini, semua itu aku bawa dalam doa....

Dua Nama Satu Penghiburan

 – Kisah tentang kebetulan kecil yang menjadi penghiburan dari Tuhan – Aku punya banyak teman. Tapi yang benar-benar dekat denganku, jumlahnya mungkin tak lebih dari ruas jari  Salah satunya adalah Liliana. Aku mengenalnya lewat sebuah pelayanan wanita dan menjadi semakin dekat karena kebetulan tempat usahanya tak jauh dari tempat tinggalku. Kami sering meluangkan waktu bersama: keluar sebentar di sela sela rutinitas, bahkan sesekali aku ikut dengannya saat ia mengantarkan pesanan cetakannya, jadi kami bisa ngobrol sepanjang perjalanan. Kami biasa bercerita tentang hidup sehari-hari, tentang kesesakan, tentang pertolongan dan cara Tuhan bekerja dalam hidup kami. Kadang cerita itu diselingi tawa, kadang tangis. Hingga suatu hari, Lili memberitahuku rencananya untuk pindah ke Amerika. Hatiku tercekat. “Aku lagi urus visa, Kak. Bantu doain ya supaya bisa lolos,” katanya. Itu kalimat yang sulit bagiku. Bagaimana aku bisa mendoakan sesuatu yang... jujur saja, tidak kuinginkan terj...

Ketika Niat Baik Bertemu Dinding

  Pernah nggak, kamu niat banget bantu seseorang, tapi malah capek sendiri? Udah kasih ide, solusi, waktu, tapi mereka tetap aja muter-muter di alasan. Rasanya kayak ngomong sama tembok. Nah... tulisan ini mungkin menjadi lukisan perasaan kala ada di titik itu. ----- Ada kalanya dalam hidup, kita melihat seseorang terjebak dalam jalan buntu atau hanya berputar putar. Kita datang bukan untuk menggurui, hanya ingin menunjukkan bahwa masih ada celah. Ada jalan lain. Ada harapan. Ada hidup yang lebih luas dari ruang sumpek itu. Tapi berkali-kali kita mengetuk, Yang terdengar hanya jawaban yang sama: "Aku nggak bisa." "Aku nggak punya modal." "Nanti dulu." Dan ujungnya, "Emang segini aja jalanku." atau " Ya mau gimana lagi" Rasanya pengap. Kita bukan marah karena mereka susah, Kita marah karena mereka memilih diam padahal kita rela bantu dorong. Karena kita tahu mereka bisa , kalau mau. Tapi mereka tak melangkah. Lelah. Ka...

Sekecil Itu , Segirang Ini

Ada hari di mana hati rasanya ringan. Bibir pun tersenyum tanpa alasan, dan lagu pujian terus menerus mengalir begitu saja: “Engkau baik di dalam stiap musim hidupku. Engkau baik di dalam sgala keaadaann. Engkau, Yesus, Kau takkan pernah tergantikan. Kumau saksikan kebaikan-Mu…” Itulah yang kualami sepanjang hari ini. ----------- Pagi  ini aku berangkat kerja seperti biasa. Tapi seperti hidup yang penuh kejutan, ujian kecil datang: ban motorku bocor di tengan perjalanan menuju tempat kerja. Sialnya, aku sama sekali lupa di mana letak tambal ban terdekat. Aku pun mendorong motorku pelan-pelan, sampai akhirnya kutemukan seorang bapak tua yang membuka jasa tambal ban di pinggir jalan. Sambil menunggu, kami mengobrol. Usianya 60 tahun, kerutan di wajahnya tampak dalam, mungkin karena beban hidup yang tidak ringan. Aku bertanya tentang pekerjaannya dan keluarganya. ia bercerita bahwa istrinya baru saja meninggal karena komplikasi diabetes. Besok, katanya, genap 100 hari kepergiannya. Ka...