Teman baik yang tak kuduga
"Belajar Melihat Kesulitan dari Kacamata Tuhan"
Kalau ada sesorang yang bertanya diantara kerumunan "adakah yang mau hidup dalam kesulitan". Pasti akan segera terdengar jawaban serentak " tidaaaaaakk" :))
Ya tentu saja ga ada satu orangpun yang mau untuk hidup dalam kesulitan, akupun juga tidak. Namun lewat masa masa sulit yang kulewati, aku menyadari bahwa kesulitan bisa jadi teman baik untukku
Teman baik itu kan bukan cuma yang selalu bikin kita senang. Dia juga pasti akan bersedia dan berusaha menolong apapun caranya supaya kita menjadi lebih baik, bahkan kadang teman baik juga bisa aja nggak sependapat atau malah menegur saat kita keluar jalur.
Oke balik lagi ke soal kesulitan ya. Salah satu kesulitan yang kualami dalam perjalanan hidupku adalah kesulitan finansial. Saat itu aku mulai berhenti bekerja di tahun 2013, dan aku berpikir bahwa suamiku akan mampu untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kami.
Namun ternyata kenyataan berbeda dengan impian. Semakin hari simpanan menipis dan selanjutnya kami mulai menutup lubang yang satu dengan menggali lubang yang lain. Hari hari itu merupakan saat yang menyiksaku karena aku bukanlah orang yang suka berhutang. Belum lagi kalau sudah mulai dikejar oleh jadwal pembayaran tagihan. Sering aku menangis, merasa sesak dan sangat lelah dengan kondisi seperti itu.
Kami mengusahakan dari 1 usaha ke usaha lainnya, tapi tidak berhasil. Aku sering harus berhadapan dengan teman, orang tua atau mertua hanya sekedar untuk meminjam uang untuk membayar tagihan atau membeli keperluan. Dan itu adalah hal yang sangat memalukanku.
Keadaan itu terus berlanjut selama 7 tahun. Ada masa Tuhan izinkan kami berhasil lewat usaha kecil jualan sari kedelai. Namun sejak covid, kami stop dengan usaha itu. (Aku akan ceritakan bagaimana Tuhan taruh benih ini di hatiku in another story yah)
Memasuki periode covid 2020, aku kembali bekerja di perusahaan tempat aku berhenti bekerja 7 tahun lalu (ini juga hal amazing yang Tuhan perbuat bagiku, storynya next time juga, sabar yah). Sejak itu, kondisi keuangan membaik. Aku mulai bisa membayar hutang sedikit demi sedikit dan mulai menyisihkan untuk menabung.
Hari ini di tahun 2025, waktu aku bersaat teduh dan duduk diam di kaki Tuhan, aku merenung. Ternyata banyak sekali hal berharga yang Tuhan ajarkan lewat 7 tahun masa sulit itu.
Suamiku yang dulu kurang bisa mengontrol diri dalam pengeluaran, sekarang dia lebih menghargai setiap nilai uang yang kami miliki. Kami yang tidak pernah berdoa bersama, Tuhan satukan hati kami kembali untuk mengerjakan benih usaha yang Tuhan taruh di hati kami. Aku yang tidak bekerja saat itu, Tuhan beri banyak kesempatan untuk merawat adik dan mama yang sedang sakit. Bahkan juga Tuhan ijinkan aku tetap aktif di pelayanan wanita. Selain itu lewat masa kesulitan ini, banyak campur tangan Tuhan dalam setiap kejadian di luar nalarku (salah satunya aku sudah tulis di artikel kisah 'eh ini mujizat ya')..
Nggak berhenti di situ. Tuhan pakai masa itu untuk aku menggali potensi dalam diriku. Aku mulai belajar otodidak, upgrade diri lewat kerajinan tangan—sesuatu yang dulu nggak pernah kepikiran. Dan masih banyak hal lain yang mengubahkan hidupku, yang jujur baru aku sadari setelah semua kesulitan itu terlewati.
Kalau aku ingat lagi masa-masa itu, aku bisa lihat jelas: Tuhan nggak pernah ninggalin. Tangannya selalu ada, telinganya selalu dengar seruanku. Walaupun kadang terasa seolah Dia diam, dan jalan yang harus kulewati sangat terjal serta berbatu… tapi ternyata justru itu yang bikin otot rohaniku makin kuat dan memberiku kepastian di masa depan, bahwa kesulitan bukanlah hal yang buruk.
Aku ingat ada firman Tuhan berkata Yakobus 1:2- Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
Semua itu menyadarkanku, bahwa kesulitan bukanlah musuh yang harus dihindari, tetapi sebaliknya, memeluk dan menerimanya sebagai teman baik. Dan punya teman baik itu seharusnya bikin hati kita hepi..yah emang ga semudah itu nerimanya... Tapi ini bener-bener jadi pencerahan buatku untuk belajar terus memandang kesulitan lewat kacamatanya Tuhan.
Oleh karena ada teman baik itulah, aku dapat menjadi orang yang lebih kuat, lebih mengandalkan Tuhan karena aku jadi tau kalau Tuhan ga pernah membiarkan aku melewati setiap jalan berbatu sendirian. Tetapi Tuhan akan mengajarku dan menggandengku melewati jalan-jalan itu dengan aman dan tuntas. Bahkan Ia juga membuatku melihat segala pertolonganNya yang ajaib.
:)
Comments
Post a Comment