Ketika Niat Baik Bertemu Dinding
Pernah nggak, kamu niat banget bantu seseorang, tapi malah capek sendiri?
Udah kasih ide, solusi, waktu, tapi mereka tetap aja muter-muter di alasan.
Rasanya kayak ngomong sama tembok.
Nah... tulisan ini mungkin menjadi lukisan perasaan kala ada di titik itu.
-----
Ada kalanya dalam hidup, kita melihat seseorang terjebak dalam jalan buntu atau hanya berputar putar.
Kita datang bukan untuk menggurui, hanya ingin menunjukkan bahwa masih ada celah.
Ada jalan lain. Ada harapan. Ada hidup yang lebih luas dari ruang sumpek itu.
Tapi berkali-kali kita mengetuk,
Yang terdengar hanya jawaban yang sama:
"Aku nggak bisa."
"Aku nggak punya modal."
"Nanti dulu."
Dan ujungnya, "Emang segini aja jalanku." atau " Ya mau gimana lagi"
Rasanya pengap.
Kita bukan marah karena mereka susah,
Kita marah karena mereka memilih diam padahal kita rela bantu dorong.
Karena kita tahu mereka bisa, kalau mau.
Tapi mereka tak melangkah.
Lelah.
Karena niat baik yang tak bersambut itu bisa menguras hati.
Karena melihat potensi yang disia-siakan itu menyakitkan.
Karena kita sadar,
Seberapa besar pun usaha kita...
Kalau seseorang belum siap berubah dari dalam dirinya,
Kita tak akan bisa menariknya keluar dari kubangannya.
Lalu kita diam.
Bukan karena berhenti peduli,
Tapi karena kita sadar:
Menolong tidak harus selalu dengan tangan yang menarik paksa,
Kadang cukup dengan hati yang tetap mendoakan dari jauh.
Tapi di tengah lelah dan kecewa ini, aku memilih percaya:
bahwa setiap benih kebaikan yang kutabur, tidak ada yang sia-sia.
Entah hari ini, entah nanti — akan ada hati yang tersentuh,
akan ada jiwa yang akhirnya tergerak.
Dan aku juga percaya...
Tuhan tidak pernah menutup mata pada niat baik,
meski seringkali tak dibalas dengan sambutan hangat.
Tuhan tahu siapa yang berjuang dalam diam,
siapa yang mencintai dalam bentuk memberi semangat,
dan siapa yang memilih tetap peduli,
meski harus menjaga jarak untuk tetap waras.
Jadi untuk sekarang, aku istirahat sejenak.
Bukan untuk menyerah.
Tapi untuk mengingat bahwa aku juga layak dijaga.
Layak dicintai — termasuk oleh diriku sendiri.
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
— Galatia 6:9
Kadang benih kebaikan tidak langsung bertunas.
Kadang kasih kita terasa hampa, seperti bicara sendiri di tengah sepi.
Tapi Tuhan tak pernah lalai mencatat.
Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk menumbuhkan semuanya —
termasuk hati yang mungkin kini masih tertutup.
Dan sementara menanti...
kita boleh berhenti sejenak,
menaruh kepala di pangkuan kasih-Nya,
dan berkata, “Tuhan, aku capek... tapi aku tetap percaya.”
Comments
Post a Comment