Tuhan Terkadang Ribet
Dalam hidup ini kita semua pasti pengen segala sesuatu yang mudah, cepat, dan tanpa ribet kan yaa... Namun, lewat dua pengalamanku ini, Tuhan menolongku memahami sesuatu lewat kacamataNya.
Kali ini aku dapat kesempatan untuk membantu dua orang. Dua peristiwa sederhana.
Yang pertama, seorang teman mama yang sudah berusia 87 tahun. Ia tinggal sendirian di rumah kontrakannya. Suaminya sudah lama meninggal dan ia tidak mempunyai anak. Meskipun tubuhnya masih cukup sehat dan ia masih mampu berjalan, tetap saja di usia senjanya ia membutuhkan penopang ketika berjalan, seperti menggandeng seseorang atau berpegangan tembok atau apa yang ada di dekatnya.
Melihat itu, hatiku tergerak, dan aku memutuskan untuk membelikannya tongkat. Sederhana saja. Aku membelinya secara online, lalu berkunjung ke rumahnya dan memberikan tongkat itu. Selesai. Praktis. Tidak rumit.
Dua minggu kemudian, Tuhan kembali menggerakkan hatiku.
Seorang temanku, Siti, membutuhkan meja lipat untuk berjualan selama bulan puasa sebagai tambahan penghasilannya, karena saat itu ia sedang hamil. Awalnya, aku berpikir sama seperti sebelumnya, beli saja secara online, lalu berikan. Cepat, mudah, dan selesai.
Siang itu aku skrol-skrol di toko online. Namun entah kenapa, malamnya aku justru menghubungi temanku yang lain, Lusi. Aku bertanya kepadanya di mana aku bisa membeli meja lipat secara offline. Lusi bertanya untuk apa, lalu aku menceritakan niatku.
Tiba-tiba Lusi berkata bahwa temannya, Weni, sepertinya memiliki meja lipat yang tidak terpakai. Lusi menyarankan agar aku datang dan menanyakan langsung apakah meja itu bisa dipinjam, disewa, atau dibeli.
Keesokan harinya aku menemui Weni. Dengan sedikit canggung aku bertanya apakah meja itu bisa kupinjam, atau mungkin aku harus menyewa atau membelinya. Weni tersenyum dan berkata aku boleh membawanya. Tidak perlu membayar sewa. Jika suatu hari sudah tidak terpakai lagi, meja itu bisa dikembalikan kapan saja.
Aku bersyukur. Tuhan menolongku mendapatkan pinjaman meja. Kupikir, aku beruntung tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli meja baru yang seharga sekitar dua sampai tiga ratus ribuan.
Karena meja itu sangat kotor dan penuh bekas minyak akibat lama tidak terpakai dan tidak dibersihkan, aku putuskan untuk mencucinya sampai bersih terlebih dahulu. Aku juga bertanya kepada Lusi apakah ia bisa membantuku mengantarkan meja itu ke rumah Siti, karena Lusi memiliki mobil. Dan Lusi pun bersedia. Setelah meja siap, aku dan Lusi pun segera mengantarkannya ke rumah Siti.
Saat sampai, kulihat Siti sedang sibuk menyiapkan jualannya. Hari sebelumnya aku memang sempat memesan jajanan darinya. Hari itu ia terlihat kerepotan, karena pembeli lain juga sudah datang. Setelah menyerahkan meja, aku dan Lusi tidak langsung pulang tapi kami sempatkan untuk ikut membantu Siti sebisa kami. Sebelum pulang, aku membeli lebih banyak jualannya—untuk kuberikan kepada Lusi, kepada Weni, dan kepada teman lain. Kami juga mampir untuk beli makanan supaya bisa makan bersama dengan Lusi dan keluarga serta membagikan untuk Weni dan pasangannya.
Menariknya, hari itu aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli meja baru, tetapi jumlah uang yang kukeluarkan untuk membeli jualan Siti dan makanan lainnya ternyata hampir sama dengan jika aku membeli meja baru.
Hal ini menggelitik hatiku, dan aku merenung, mencoba memahami keputusan ribet yang sudah kuambil itu. Bukankah sebenarnya lebih mudah jika aku langsung membeli meja saja secara online. Tidak perlu repot menelepon siapa-siapa. Tidak perlu pergi mencari pinjaman. Tidak perlu mengeluarkan tenaga dan waktu untuk mencuci meja. Tidak perlu membeli makanan untuk banyak orang.
Tampaknya cara membeli online lebih sederhana, tetapi Tuhan memperlihatkan padaku sudut pandang yang berbeda. Ia tidak hanya ingin satu orang melakukan satu kebaikan. Ia merangkai kehidupan menjadi harmoni yang indah.
Jika aku membeli meja sendiri, mungkin ceritanya berhenti di aku dan Siti saja. Namun dengan cara-Nya, Lusi ikut terlibat. Weni ikut menjadi saluran berkat. Aku turut membantu Siti dan Siti menerima bukan hanya meja, tetapi juga perhatian, dukungan dan pembeli.
Satu kebutuhan kecil, tetapi begitu banyak hati yang disentuh.
Tuhan tidak sekadar menyelesaikan masalah.
Ia merajut relasi.
Ia menggerakkan banyak tangan.
Ia membuat lebih banyak orang ikut merasakan sukacita memberi.
Dan aku belajar sesuatu hari itu.
Sering kali kita berpikir saat mengambil keputusan, hal yang praktis dan sat set adalah cara terbaik. Namun untuk sesuatu yang sudah kita doakan, bahkan keputusan yang tampaknya keliru atau malah bikin “ribet” pun bisa menjadi cara Tuhan bekerja untuk menciptakan simfoni yang indah.
Aku hanya ingin membantu satu orang, tetapi Tuhan ingin melibatkan banyak orang menjadi saluran berkat dengan cara-Nya masing-masing.
Melalui proses, waktu, dan setiap pribadi yang terlibat, semuanya menjadi harmoni indah yang dirangkai-Nya. Pengaturan Tuhan itu memang sempurna. 🤍
Comments
Post a Comment