Mengalami Tuhan di Tengah Luka - Kisah Maree
Sebuah perjalanan dari luka menuju pemulihan
"Di balik setiap air mata, Tuhan sedang menulis kisah pemulihan yang indah."
Bagaimana jika orang yang kamu cintai justru menjadi orang yang paling melukai hatimu?
Kisah Maree adalah kisah tentang seorang perempuan yang hampir kehilangan dirinya sendiri demi cinta. Tapi inilah kisah tentang bagaimana Tuhan tak pernah meninggalkannya — bahkan ketika dunia seolah runtuh.
Di tengah hubungan yang penuh manipulasi dan luka, Maree belajar memercayakan dirinya kepada kasih Tuhan. Dari kebimbangan menuju keberanian. Dari keterpurukan menuju pemulihan.
Kisah ini bukan hanya tentang Maree. Ini adalah kisah banyak dari kita. Semoga kisah ini bisa menginspirasi untuk berani jujur pada luka, berani melepaskan, dan menemukan kembali siapa diri kita di mata Tuhan.
BAGIAN 1 - Awal perjalanan
Maree adalah salah satu teman sepelayananku di sebuah organisasi wanita. Meski usia kami terpaut cukup jauh, tetapi pertemanan kami cukup dekat . Kami telah bersama sejak sekitar tiga belas belas tahun lalu. Maree memiliki kisah hidupnya sendiri dan melalui salah satu kisahnya ini, aku melihat bagaimana rancangan Tuhan selalu berjalan sesuai kehendak-Nya—meski kadang tak mudah dipahami.
Awalnya aku tidak menyadari bahwa Tuhan akan membawaku untuk menemaninya berjalan melewati titik titik terendah dalam hidupnya dan menyaksikan bagaimana tangan Tuhan menolongnya bangkit.
Sekitar sembilan tahun lalu, Maree menjalin hubungan dengan seorang pemuda, anak seorang pendeta dimana dia bergereja. Sebenarnya Maree sangat dekat dengan orang tua pemuda ini, dan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Namun karena perbedaan usia maree dengan pemuda ini yang terpaut cukup jauh, mereka berdua merahasiakan hubungan itu dari keluarga dan menjalaninya secara diam-diam. Hanya mereka berdua, tanpa dukungan, tanpa arah yang jelas, namun semakin lama hubungan mereka semakin dalam.
Lima tahun telah berlalu, akhirnya mereka memberanikan diri untuk memberi tahu orang tua si pemuda. Namun mereka tidak mendapat restu. Meski begitu, mereka tetap melanjutkan hubungan itu, karena Maree mencintainya sepenuh hati. Ia mempercayakan waktu, tenaga, bahkan ia menjadikan pemuda ini sebagai konsultan aset pribadinya. Harapan untuk mereka bisa bersatu suatu saat kelak, membuatnya tetap bertahan dalam cinta itu. Tanpa disadarinya cinta itu membawanya semakin dalam.
Waktu terus bergulir... cinta itu membutakannya… dan mulai menghancurkannya.
BAGIAN 2 - Ditinggalkan, Dikhianati, dan Terluka
Perlahan, arah cerita mereka mulai berubah. Pemuda ini mulai mendekati wanita lain. Kekasih barunya adalah wanita muda yang manis dan energik. Keluarga pemuda itupun mendukung hubungannya yang baru sepenuhnya. Kenyataan ini membuat Maree hancur. Maree terjebak dalam kemarahan, kekecewaan dan perasaan sakitnya. Meski rasa sakit itu begitu tajam, ada bagian dalam dirinya yang masih berharap... berharap ada sebuah keajaiban yang datang, berharap pemuda itu akan kembali padanya.
Namun pada akhirnya Maree patah hati karena semua harapan dan doanya tidak membuahkan hasil. Maree merasa dikhianati dan ditinggalkan oleh pemuda ini dan keluarganya. Maree merasa tak berharga, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak memiliki masa depan, dan tak yakin ada pria lain yang akan menerimanya. Maree sangat kecewa, tetapi tak mampu melupakan. Maree terikat, tak sanggup meninggalkan meski tahu ia terluka.
Sampai di sini cerita Maree.
BAGIAN 3 : Luka Yang Membawanya Kembali
Di mana aku dalam rangkaian perjalanan hidup Maree ini?
Sebagai teman dekat, aku tahu kisah ini sejak awal Maree dekat dengan pemuda itu. Aku tahu betul hubungan itu tidak sehat. Tak banyak yang tahu bahwa pemuda itupun melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap Maree. Kata-katanya memanipulasi pikiran Maree dan selalu menghancurkan kepercayaan dirinya. Aku pernah mengingatkan Maree ketika ia mengalami kekerasan. Namun mungkin karena merasa tak didukung, sejak itu Maree mulai jarang bercerita padaku.
Kini, saat Maree merasa hidupnya hancur, ia datang kembali padaku. Ia menangis dan menceritakan semua yang telah terjadi . Aku mencoba menenangkannya, membantunya melihat kenyataan, dan melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Aku berkata “Sudah waktunya keluar dari masa lalu... seperti bangsa Israel keluar dari Mesir di hari Paskah.”
Sejak saat itu, kami mulai sering bertemu kembali. Maree kembali terbuka, bercerita tentang isi hatinya, perasaannya, pikirannya, bahkan hasil ‘pengintaiannya’ di media sosial pemuda itu dan kekasih barunya. Aku menanggapinya dan selalu berusaha membuatnya lebih sadar akan realita yang ada dan menyerahkan kepada Tuhan, supaya ia dapat sembuh kembali.
Aku tahu bahwa dari luar, kehidupan Maree tampak baik-baik saja. Ia tidak kekurangan secara finansial, dan tak banyak drama yang mengganggu kesehariannya. Tapi jauh di dalam hatinya yang terluka itu, masih tersimpan kegalauan. Pada kenyataannya, Maree belum benar-benar bisa melepaskan ingatan akan pemuda itu. Di balik air mata dan segala kesadarannya, ia masih diam-diam menginginkannya. Ia masih menjalin komunikasi. Ia masih terikat. Dan di tengah keterikatan itu, Maree juga terus mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Aku terus berdoa untuk pemulihannya.
Kami - aku, mama dan kakak Maree, Sissy dan Fiona yang adalah teman teman dekat masa kuliahnya - berulang kali mengingatkan: “Tinggalkan dia.”, “Lepaskan dia”, “Dia tidak layak untukmu.” “Kamu layak mendapat yang lebih baik.”, “Kamu berharga.”.
Terkadang terasa melelahkan, seperti mengulang nasihat yang tak kunjung didengar. Tapi kami terus mengingatkan, karena kami tahu, Maree sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Dan justru di titik terendah itulah… Tuhan bekerja. Di balik reruntuhan yang ia alami, Tuhan sedang membangun sesuatu yang baru
BAGIAN 4 - Ketika Tuhan Turun Tangan
Aku pernah menyarankan Maree untuk pergi ke gereja lain, supaya maree mendapat lingkungan yang baru. Dan di penghujung tahun ini, Maree akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memutuskan untuk pindah gereja. Aku dan Maree juga mulai berdoa bersama: doa pelepasan dan doa pengampunan bahkan kami berdoa memberkati pemuda itu. Tapi hati Maree masih terikat.... Hati Maree belum benar-benar terbebas. Semua ingatan akan pemuda itu masih menghantui hatinya.
Sampai suatu hari, Tuhan mungkin berkata, “Sudah cukup.” dan Tuhan turun tangan..
Di gereja baru, Maree bergabung dalam kelompok sel. Ia mendapat teman-teman baru, orang-orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Salah satunya adalah Jonas, yang selama ini tinggal di Solo, tetapi karena tuntutan pekerjaan, Jonas harus lebih sering berada di Surabaya. Tak disangka, Jonas ini adalah salah satu manajer di perusahaan yang sama tempat mantan kekasih Maree bekerja.
Seperti sebuah skenario Ilahi. Dalam sebuah kesempatan Tuhan mempertemukan Jonas dan mantan kekasih maree itu di parkiran kantor. Mereka berkenalan dan sebuah percakapan terjadi. Tapi dari pertemuan itulah, Jonas menangkap sesuatu, karakter asli dari pemuda itu yang selama ini tak dilihat maree. Jonas langsung menghubungi Maree dan menceritakannya. Kejadian ini terjadi seminggu sebelum hari raya Paskah.
Tak berhenti sampai di situ, beberapa hari kemudian Tuhan kembali bekerja, kali ini di dalam hati Maree. Ia diingatkan pada satu memori lama, saat masih duduk di bangku SMA. Salah seorang temannya pernah berkata bahwa Maree kehilangan “sesuatu yang berharga.” Saat itu ia mengatakan tidak mungkin dan mengabaikannya. Tapi kini, memori itu muncul kembali, dan Maree tersadar akan satu hal ini bahwa Tuhan tahu segalanya. Bahkan sebelum hal itu terjadi, Tuhan sudah tahu dan sudah memperingatkan. Ia menangis dan terharu bahwa Tuhan sungguh mengetahui masa depan hidupnya. Dan disaat itu Kasih Tuhan memenuhi hati Maree.
BAGIAN 5 - Jawaban yang Menandai Kebebasan
Hari itu, Jumat Agung, Maree duduk bersamaku di salah satu sudut di lingkungan gereja. Ia menceritakan semua ‘kebetulan’ yang ternyata bukan kebetulan. Bagaimana Tuhan telah manaruh orang-orang disekitarnya untuk menjaganya, mengirimkan orang yang ia belum pernah kenal sebelumnya untuk membukakan hal yang baru, dan menghidupkan kembali memori masa SMA-nya yang membuatnya tersadar kembali.
Di saat itu akupun kembali menanyakan hal yang sama pada Maree “Kalau pemuda itu datang hari ini dan memintamu kembali, apa kamu akan kembali padanya?”. Tidak seperti biasanya, kali ini untuk pertama kalinya Maree menjawab dengan pasti dan tegas “Tidak. Aku tidak akan kembali padanya.”
Mendengarnya, hatiku serasa bersorak…Haleluya. Rasanya seperti sebuah kemenangan besar setelah pertempuran yang panjang dan kelam. Seperti keluar dari sebuah bunker dan melihat matahari kembali.
Dan di sela percakapan kami, Tuhan juga mengingatkanku untuk mengatakan pada Maree supaya ia mencabut perkataan-perkataan buruk yang pernah ia lontarkan atas pemuda itu, dan untuk benar-benar mengampuni serta memberkatinya.
Hari itu kami berpisah dengan keyakinan teguh: Tuhan mengetahui setiap detail kehidupan. Tuhan memegang masa depan kami.
BAGIAN 5 - "Welcome Nak"
Aku tahu, tahun ini akan menjadi Paskah yang tak akan dilupakan Maree. Paskah yang membawa pembebasan dari masa lalu dan mengantarkannya ke musim yang baru bersama Tuhan.
Akupun melihat Maree memberikan kesaksian di gereja, tentang pergumulannya dan kerinduannya untuk connect kembali dengan Tuhan di hari Paskah itu
Beberapa hari kemudian, kami bertemu kembali di sebuah kafe. Maree dengan semangat menceritakan padaku bagaimana di momen paskah itu ia bisa merasakan Tuhan ada di hadapannya, membuka tanganNya lebar-lebar dan berkata “welcome nak”. Ia merasakan Tuhan begitu nyata. Ia tahu Tuhan sudah membereskan dan mencabut semua hal buruk di masa lalunya sampai ke akar-akarnya dan memulihkan kembali hatinya. Ia juga menyebut salah satu Firman yang membangkitkan jiwanya kembali "Matamu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya".
BAGIAN 6 - Tuhan Yang Setia
Menjadi teman perjalanan Maree melewati masa-masa berat di hidupnya adalah sebuah pengingat yang manis bagiku, bahwa Tuhan Yesusku adalah Tuhan yang mengenal setiap nama, setiap luka, setiap air mata. Tuhan yang tahu setiap detail hidup kita bahkan sebelum hal itu terjadi. Tuhan yang tahu bahwa terkadang kita jatuh, gagal, dan kehilangan arah. Tapi Dia, Tuhan, tidak akan pernah melepaskan tangan-Nya saat kami melewati masa-masa berat.
Ia selalu menyediakan penghiburan-penghiburan kecil di sela-sela kepedihan dan kesesakan, Ia juga mengirimkan orang-orang yang akan menjadi pagar supaya kami tidak jatuh terlalu dalam, ataupun menjadi sofa bagi kami untuk bersandar.
Ia, Tuhan yang tak pernah lelah membuka tangan-Nya dan menanti kami untuk kembali dan berkata:
“Bapa, ini aku. Terima kasih untuk semuanya. Aku aman bersama-Mu.”
Comments
Post a Comment