Perisai yang tak pernah lengah

Aku pernah mendengar orang berkata,

“tanggal sial tidak pernah tertulis di kalender,”

ya itu benar…. Namun lewat kisahku kali ini, ijinkan aku melengkapi kalimat itu. . 

*****

Aku dan iparku, kami tinggal di satu rumah yang sama, rumah mertua kami. Kami juga bekerja di kantor yang sama. Setiap hari kami berangkat ke kantor bersama dengan sepeda motor kesayanganku. Biasanya, kalau aku ada urusan di perjalanan, iparku tetap ikut bersamaku sampai urusanku selesai, lalu kami lanjut ke kantor.

Tapi pagi itu berbeda. Entah mengapa, aku merasa harus menurunkannya dulu di kantor. Padahal urusanku tak jauh dari sana. Sebuah keputusan yang tampak biasa… namun tanpa kusadari ternyata begitu berarti. 

Setelah menyelesaikan urusanku, aku hendak kembali ke kantor. di sanalah awal semuanya terjadi—kecelakaan itu.

Aku hendak melintasi jalan bersama dengan sebuah mobil lain yang ada di sisi kananku. Saat mobil itu mulai bergerak sedikit lebih dulu, aku sempat melihat sebuah motor melaju di kejauhan dari arah kananku. Aku terpaku memandangi motor itu—dan karena itu, aku tidak ikut bergerak bersama mobil di sebelahku. Seperti terlintas di pikiranku "Akan ada kecelakaan"

BRAAAK!  

Tiba-tiba semuanya terjadi begitu cepat. Motor itu menabrakku. Motor dan tubuhku terdorong. Aku tersungkur ke aspal. Kaki kiriku terjepit di bawah motorku sendiri. Aku sadar... aku kecelakaan.

Beberapa detik kemudian, aku mencoba bangkit. Perlahan menarik kakiku, berdiri, dan memeriksa tubuhku. Tanganku… kakiku… bajuku… bahkan tidak ada robekan. Tidak ada darah. Tidak satu gores pun. Aku menunduk, memandangi motorku yang rusak. Tapi hatiku justru dipenuhi rasa takjub. Tuhan menyelamatkanku.

Besi footstep patah. Ada bagian body yang pecah, stang motor miring dan beberapa bagian lain yang bengkok sehingga motorku tidak bisa dijalankan. Tapi aku? Tak terluka sedikit pun. Seakan ada tangan yang menghalangiku dari maut. 

Aku melihat pria yang menabrakku. Aku berjalan menghampirinya. Di wajahnya, hanya ada kecemasan dan keputusasaan.
Mungkin dia membayangkan aku akan menuntutnya untuk suatu ganti rugi. Lalu dia bertanya dengan suara cemas, "Apa yang harus saya lakukan?" Aku hanya menjawab pelan, "Hati-hati lain kali ya, jangan mengebut"

Dia tampak terkejut dengan reaksiku dan berkata “Terima kasih bu”. Sambil mengulurkan tangannya, memberi salam dan mencium punggung tanganku. Dan aku pun membiarkannya pergi dengan damai.

Aku sadar, aku telah menerima kasih karunia yang sangat besar di momen kecelakaan ini. Tuhan menyelamatkanku, bahkan tanpa setetes darah dan goresanpun di tubuhku.
Bagaimana mungkin aku tidak memberi kasih karunia yang sama untuk orang yang menabrakku? Pikiranku tidak bisa lepas dari kasih karunia itu. Aku begitu tersentuh menyadari bahwa Tuhan begitu peduli padaku.

Tuhan menyelamatkanku. Tapi bukan hanya aku—Dia juga menyelamatkan iparku. Andai ia ada di belakangku pagi itu, mungkin keadaannya tak akan sama. Mungkin ia yang terluka.

Aku teringat firman-Nya:

“Hanya Dialah tempat perlindunganku, tempat aku merasa aman; Dialah Allahku, dan kepada-Nyalah aku percaya.
Sebab Ia menyelamatkan engkau dari jerat penangkap burung, dan dari penyakit yang mematikan.
Dengan kepak-Nya Ia akan menaungi engkau, dan di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung.
Kesetiaan-Nya adalah perisai dan pelindungmu.
Engkau tidak perlu takut terhadap kegelapan malam, ataupun terhadap bahaya di siang hari;
Tidak juga terhadap wabah yang berjalan dalam gelap, atau bencana yang datang di waktu pagi.”

Hari itu, aku belajar bahwa ada saat-saat di mana aku bisa saja lengah, tetapi Perisaiku yang sejati tak pernah sekalipun lengah dalam menjaga dan melindungiku. Tuhan begitu baik. Dan aku tidak akan pernah lupa bagaimana Dia menggenggam hidupku dengan tangan kasih-Nya yang kuat dan menjadi perisai bagiku. 

Lewat peristiwa ini, aku akan menambahkan pernyataan awal dalam ceritaku bahwa “tanggal sial tidak pernah tertulis di kalender, namun pertolongan Tuhan selalu ada dalam kalender hidupku. :)


Comments

Popular posts from this blog

Ketika Hidup Ga Sesuai Harapan

Sekecil Itu , Segirang Ini

Eh... Ini mujizat ya?