Musim bernama Juni
Juni 2026 menjadi bulan yang penuh dengan berbagai peristiwa. Bulan ini seolah mengingatkanku bahwa hidup selalu bergerak di antara sukacita dan dukacita, antara kelahiran dan kematian, antara harapan dan air mata.
Bulan Juni membawa kenangan tersendiri bagiku. Delapan puluh empat tahun lalu, tepat pada 6 Juni, Papa dilahirkan ke dunia. Lalu di bulan yang sama, pada 9 Juni 1997, Papa pulang kembali ke surga.
Bulan Juni juga menjadi salah satu hari spesial dalam hidupku. Tepat pada 13 Juni tahun ini, aku merayakan 17 tahun pernikahanku.
Namun anniversary kami tahun ini kami lewati tanpa sesuatu yang istimewa. Tidak ada makan malam romantis. Tidak ada perjalanan ke tempat indah. Kami sedang belajar mengencangkan ikat pinggang. Di hari spesial itu, aku dan suami makan di rumah seperti biasa.
Meski demikian, Tuhan tetap punya cara-Nya sendiri untuk menghadirkan kehangatan.
Sehari setelah hari anniversaryku, aku melayat seorang teman sesama pelayanan wanita. Namanya Nia. Sebelumnya ia tidak pernah mengeluhkan sakit yang berarti. Suatu hari ia hanya tampak pucat, tetapi setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa ia menderita kanker usus stadium 4. Semuanya berjalan begitu cepat. Ia hanya sempat dirawat selama dua bulan di rumah sakit sebelum akhirnya pulang ke rumah Bapa di surga.
Hari itu, tanggal 14 Juni, ketika aku dan temanku, Maree, datang ke rumah duka, ibu Nia bercerita bahwa setelah misa penutupan peti, akhirnya ia mampu melepaskan kepergian putrinya dengan tenang. Saat ia bercerita, tampak damai yang memenuhi hatinya.
Aku pun bisa ikut merasakan damai yang sama. Aku percaya, tangan Tuhan sedang merangkul hati sang ibu.
Sepulang dari melayat, Maree mengajak aku dan suamiku makan bersama untuk merayakan anniversary kami. Sederhana, namun bagiku ajakan itu membawa kehangatan tersendiri di hati. Aku merasakan penghiburan Tuhan darinya.
Di sisi lain, bulan Juni kembali menghadirkan cerita baru.
Pada 17 Juni 2026, Aleza lahir. Ia adalah putri dari salah satu temanku, Siti. Kehadiran bayi kecil ini membawa begitu banyak sukacita.
Sejak mengikut Kristus, perjalanan hidup Siti penuh dengan perjuangan—bahkan bisa dibilang jauh lebih penuh warna dibanding hidupku.
Kehamilannya bukan perjalanan yang mudah. Dokter sempat mengatakan bahwa kondisi Siti cukup berisiko untuk hamil, mengingat kondisi tubuhnya yang terlalu kecil, kurang gizi serta riwayat kehamilan terakhir yang sudah 12 tahun lalu.
Namun tangan Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib.
Bayi kecil yang cantik, sehat, dan sempurna ini lahir melalui persalinan normal, menjadi bagian dari pemulihan bagi keluarga Siti.
Namanya pun begitu indah: Tania Eliane Aleza Pramono—yang berarti sebuah hadiah terindah yang menjadi jawaban doa dan membawa sukacita bagi keluarga Pramono.
Aku pun bersukacita karena Tuhan juga memberiku kesempatan untuk ikut membantu dan mendukung keluarga ini.
Dari satu sukacita, aku kembali melihat sisi kehidupan yang lain.
Aku mengenal salah seorang teman almarhum mamaku. Namanya Bu Nardi. Usianya 88 tahun dan ia hidup seorang diri di Surabaya. Sejak Mama meninggal, aku cukup sering mengunjunginya.
Setelah melewati 88 tahun kehidupannya dengan kondisi yang relatif sehat, tiba-tiba ia menerima vonis dokter bahwa dirinya menderita kanker gusi kronis.
Berita itu sungguh tidak mudah diterima.
Meski dari luar ia tampak tegar, aku tahu jauh di dalam hatinya ada ketakutan yang besar. Ada kegentaran yang mungkin bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kadang, ketika hidup terasa terlalu berat, air mata menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa di hadapan Tuhan.
Tuhan menggerakkan hatiku untuk menjadi supporter setianya—menguatkan dan mendoakan, membantu secara moril maupun materiil, semampuku.
Di sela-sela doa, aku pun menangis. Terasa berat apa yang harus dialaminya. Aku tak mampu membayangkan, seandainya hal itu terjadi padaku. Apa yang akan kulakukan, Tuhan?
Pada 18 Juni, satu hari sebelum kontrol untuk menentukan apakah ia harus menjalani operasi, aku mengunjunginya. Malam itu kami berdoa bersama, memohon belas kasihan Tuhan.
Doa-doa kami dipenuhi air mata. Dengan segala keterbatasan iman, kami berusaha menaruh seluruh kepercayaan kepada Tuhan—mengharapkan mujizat, mengharapkan kesembuhan, sambil tetap belajar percaya bahwa kehendak Tuhan jauh lebih baik daripada apa yang kami pikirkan.
Keesokan harinya, aku menunggu kabar dengan jantung berdebar.
Lalu sebuah pesan WhatsApp masuk.
Sebuah kabar gembira.
Bu Nardi tidak perlu menjalani operasi. Dokter hanya menyarankan rawat jalan.
Aku menghela napas panjang dan bersyukur. Setidaknya kabar itu membawa kelegaan bagi kami. Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk hari ini.
Dan untuk hari-hari ke depan, kami memilih tetap menaruh kepercayaan kepada Tuhan, percaya bahwa kuasa-Nya sanggup memberikan pemulihan yang sempurna.
Bulan Juni tahun ini mengajarkanku banyak hal.
Ada yang berpulang.
Ada yang kehilangan orang terkasih.
Ada yang lahir ke dunia.
Ada yang menerima vonis sakit penyakit.
Ada yang melewati momen spesial seperti hari biasa.
Semua ini kembali mengingatkanku bahwa apa pun bisa terjadi dalam hidup. Setiap orang memiliki musim dan prosesnya masing-masing.
Namun satu hal tetap sama.
Tangan Tuhan selalu meraih kami dengan cara-Nya yang ajaib. Ia tidak pernah terlambat, juga tidak pernah terlalu cepat.
Kehangatan kasih-Nya selalu sanggup menjangkau hati kami.
Dan penghiburan serta damai sejahtera-Nya selalu tersedia cukup bagi kami, apa pun peristiwa yang sedang kami hadapi.
Ia selalu hadir dalam setiap musim kehidupan.
Comments
Post a Comment